RadarMaluku.id, Buru Selatan — Aksi unjuk rasa yang dinilai janggal dan memalukan akan segera terjadi di Kabupaten Buru Selatan. Di tengah gelombang nasional para aktivis mahasiswa dan masyarakat yang menuntut pemecatan polisi penabrak driver ojek online di Jakarta, justru dua organisasi lokal di Namrole berencana turun jalan untuk membela sang oknum pelaku.
Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat (AMPERA) Cabang Buru Selatan bersama Forum Silaturahmi Pemuda Pelajar Mahasiswa Namrole (Forsippman) dijadwalkan menggelar Aksi Unjuk Rasa (AUR) padaSenin, 8 September 2025. Talha Razil Souwakil akan bertindak sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) I sekaligus Ketua AMPERA, sementara Umar Rifaldi Najar sebagai Korlap II sekaligus Ketua Forsippman.
Baca Juga : Jelang HUT GPM Ke-90, Latbual Bagikan Beras ke Warga
Mereka akan menyuarakan tuntutan yang cukup mengejutkan yakni; mendesak Kapolri membatalkan keputusan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) terhadap Kompol Cosmas Kaju Gae, serta meminta Mabes Polri segera mengaktifkan kembali status keanggotaan perwira tersebut.
Ironisnya, kedua organisasi penggagas aksi justru diketahui minim basis massa. AMPERA hanya memiliki 3–5 anggota aktif, sedangkan Forsippman sudah lama vakum tanpa struktur jelas, bahkan disebut hanya dimanfaatkan Umar Rifaldi Najar—yang kini menjabat Ketua Bapilu PSI Cabang Buru Selatan—untuk kepentingan pribadi. Karena itu, rencana mobilisasi massa dari masyarakat sekitar Kecamatan Namrole digadang sebagai cara untuk memenuhi target jumlah peserta aksi.
Sumber lokal menilai rencana AUR ini bukanlah murni suara mahasiswa dan pemuda. Aksi diduga merupakan pesanan oknum tertentu demi membangun simpati publik terhadap Kompol Cosmas sekaligus memperbaiki citra institusi yang tengah terpuruk pasca tewasnya Affwan Kuriniawan, driver ojek online yang terlindas kendaraan rantis Brimob di Jakarta pada 28 Agustus 2025.
Baca Juga : Aksi Besar di Ambon, BEM Nusantara Maluku : Besok 11 Kampus Serbu Polda dan DPRD Maluku
“dua isu tambahan yang akan diangkat dalam aksi disebut hanya tempelan semata, sekadar untuk memberi kesan seolah-olah ada agenda lokal yang diperjuangkan. Fakta bahwa kedua korlap aksi masih berstatus pengangguran memperkuat dugaan adanya pihak sponsor yang membiayai aksi tersebut,” ungkap salah seorang warga Namrole yang enggan menyebutkan namanya kepada wartawan, Minggu (7/9/25).
Kini, publik Buru Selatan menunggu, apakah benar aksi yang rencananya digelar Senin ini akan mendapat simpati masyarakat, atau justru menuai sorotan sebagai gerakan yang aneh bin ajaib—berlawanan dengan arus besar tuntutan aktivis nasional. (Sam)
Baca Juga : Bupati Calon Tunggal Ketua KONI Buru Selatan Periode 2025-2029







Responses (2)